Pagi-pagi sekali, ketika embun masih memeluk genting rumah-rumah petak di sudut kota, suara gesekan bambu dan bau kedelai rebus yang khas telah menjadi alarm alami bagi rumah kami. Di dapur yang sempit itu, Bapak sudah sibuk mengepulkan uap dari kuali besar. Beliau adalah seorang bakul tahu keliling—pria paruh baya dengan otot lengan yang kokoh karena setiap hari menumbuk kedelai dan memikul dagangan.
Bagi anak-anak sebayaku, berangkat sekolah mungkin diantar dengan sepeda motor mengilap atau mobil jemputan yang nyaman. Namun, bagiku, kendaraan paling megah di dunia adalah sebuah sepeda gayuh tua bermerek Phoenix milik Bapak.
Di atas boncengan belakang sepeda itu, tepat di atas dua kotak kayu tempat tahu putih dan tahu goreng tersusun rapi, sebuah jok tambahan kecil telah dipasang khusus untukku. Setiap hari, dengan setia dan sabar, Bapak mengantarku ke gerbang sekolah.
"Pegangan yang kuat, Nak. Sekolah yang bener, biar besok nggak capek kayak Bapak," ucapnya selalu setiap kali aku naik ke boncengan, dengan tangan kasapnya merapikan kerah seragamku.
Dunia anak-anak kadang penuh gengsi. Di tahun-tahun awal sekolah dasar, aku sempat merasa malu. Bau asam tahu yang samar kerap melekat di seragamku, membuat beberapa teman menutup hidung. Namun, rasa malu itu selalu menguap setiap kali aku menoleh ke belakang dan melihat senyum tulus Bapak yang bercucuran keringat, mengayuh pedal sepeda menanjak jembatan demi membawaku meraih masa depan. Di atas tumpukan tahu itulah mimpi-mimpiku dirajut.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Sepeda ontel itu menjadi saksi bisu perjalanan akademisku. Dari SD hingga aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, roda sepeda Bapak terus berputar tanpa kenal lelah. Hujan maupun terik matahari tak pernah menyurutkan langkahnya mengantar dan menjemputku. Uang receh hasil penjualan tahu demi tahu ia kumpulkan, dipilah-pilah dengan teliti di bawah lampu petromak, khusus untuk membayar uang semesteran dan membelikanku buku.
Berbekal doa, ketulusan cinta seorang bakul tahu, serta semangat pantang menyerah yang diwariskan Bapak, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku. Tak berhenti sampai di situ, lembaran hidup baru terbuka ketika aku lolos seleksi pegawai negeri sipil (PNS). Saat pertama kali mengenakan seragam khaki lengkap dengan lencananya, orang pertama yang kudekati adalah Bapak. Kuarahkan beliau untuk duduk di kursi ruang tamu, lalu kukenakan peci hitamku ke kepalanya sambil berkata, "Bapak, anakmu sekarang sudah jadi abdi negara. Semua ini berkat keringat di atas sepeda ontel itu." Bapak hanya bisa terdiam, memelukku erat, sementara air mata tua menetes di pipinya yang keriput.
Waktu berlalu begitu cepat. Puluhan tahun aku mengabdi sebagai PNS, mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat, sebuah amanah yang selalu diingatkan Bapak agar kujaga dengan jujur.
Kini, roda waktu telah berputar penuh. Usia telah senja menyapa, dan kemarin, upacara kecil di kantor menandai hari terakhir pengabdianku. Aku telah resmi pensiun dari dunia birokrasi, mengakhiri karier panjang dengan kepala tegak dan hati yang penuh rasa syukur.
Namun, di balik kebanggaan pencapaian akademik dan profesional ini, ada satu hal yang paling kurindukan: boncengan sepeda tua itu dan sosok Bapak yang kini telah berpulang ke Rahmatullah.
Terima kasih, Ayahku tercinta. Perjuanganmu, kesetiaanmu mengantar jemputku di atas tumpukan tahu, adalah sekolah kehidupan terbaik yang pernah ada di dunia ini. Semoga engkau senantiasa berbahagia di sisi-Nya. Doa-doaku tak pernah putus memohonkan ampun dan kasih sayang Sang Maha Kuasa untukmu.